Jakarta (cvtogel) – Ahli manajemen memberikan saran kepada generasi muda, termasuk yang berada di Jakarta. Agar tidak melakukan pembelian impulsif sebagai cara untuk mengatasi stres, kecemasan, atau ketakutan. Terhadap situasi yang tidak pasti di masa depan, yang sering disebut dengan doom spending. Salah satu saran adalah dengan melakukan perencanaan keuangan.
“Perilaku doom spending ini sebenarnya tidak membawa kebahagiaan, malah dapat berpengaruh negatif terhadap stabilitas keuangan jangka panjang,” jelas Fandi Murdani, Kepala Fakultas Sequis Quality Builder, Sequis Training Academy of Excellence (STAE) di Jakarta, pada Rabu.
Dia menyarankan agar reaksi terhadap ketidakpastian keuangan dilakukan dengan cara yang lebih bijak, seperti dengan rajin menabung dan menghemat pengeluaran serta menghindari penggunaan aplikasi belanja atau mencari usaha tambahan.
“Tidak semua masalah bisa diselesaikan dalam waktu cepat. Namun banyak cara untuk mengelola emosi,” ujarnya.
Saat merasakan stres, alih-alih membuka aplikasi belanja online, cobalah aktivitas lain. “Misalnya meditasi, mengejar hobi, menikmati teh sore dengan pasangan atau orang tua, atau berolahraga,” tambahnya.
Dalam hal perencanaan keuangan, dia menekankan bahwa sikap ini mempermudah individu dalam menjalani kehidupan.
Orang tetap bisa menikmati pengalaman seperti berlibur, berbelanja, atau menjalani hobi tanpa merusak stabilitas keuangan, karena sejak awal gaji sudah dikelola dengan baik.
Sebaiknya, aturlah keuangan dengan memperhatikan skala prioritas menggunakan rumus 40-30-20-10. Dari anggaran yang ada, alokasikan 40 persen untuk kebutuhan sehari-hari, 30 persen untuk utang, 20 persen untuk investasi dan tabungan, dan 10 persen untuk keperluan sosial.
Selanjutnya, sangat penting untuk memperhitungkan dana darurat dan investasi dalam perencanaan keuangan. Individu bisa memulai dengan menyisihkan 10 persen dari gaji untuk pos ini, kemudian meningkatkannya menjadi 20 persen.
“Jumlah ini dapat terus ditingkatkan seiring meningkatnya pengalaman dalam merencanakan keuangan dan bertambahnya pendapatan,” kata Fandi.
Alih-alih melakukan doom spending, dia menyarankan generasi muda untuk belajar berinvestasi melalui jalur resmi yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Investasi penting untuk memperkuat kemandirian finansial, menjaga nilai aset dari inflasi, serta menyediakan dana untuk kebutuhan di masa mendatang. Anda bisa memulai dengan deposito dan reksa dana,” tuturnya.
Dia juga menyoroti pentingnya memiliki asuransi. Fandi mendorong generasi muda untuk tidak ragu terhadap asuransi.
“Selama kesehatan masih baik, usia dalam tahap produktif, dan menjawab pertanyaan dengan tepat saat mengisi Surat Permintaan Asuransi (SPA), maka asuransi adalah strategi finansial untuk mempersiapkan diri dan mengurangi dampak risiko kehidupan,” tutupnya.