berita berita hari ini

Ekonom Unand menyarankan Indonesia percepat negosiasi dengan AS

Padang – Ekonom dan pengajar di Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat (Sumbar). Endrizal Ridwan mengingatkan agar pemerintah Indonesia segera melakukan negosiasi dengan pemerintah Amerika Serikat (AS) mengenai tarif timbal balik.

“Saya mendorong Indonesia untuk bersikap terbuka dan mengadakan negosiasi dengan Amerika Serikat dengan pendekatan sepihak untuk menghapus beberapa hambatan perdagangan,” ungkap Endrizal Ridwan di Padang pada hari Selasa.

Endrizal setuju dengan pernyataan Presiden Prabowo yang berencana untuk membuka jalur negosiasi dengan AS dan meningkatkan koordinasi dengan negara-negara anggota ASEAN.

“Tindakan Presiden sudah benar, tetapi harus dilakukan dengan cepat. Negara lain seperti Vietnam sudah bertindak lebih cepat. Kita seharusnya menjadi pelopor, bukan hanya pengikut,” tegasnya.

Kebijakan baru Presiden AS Donald Trump yang menerapkan tarif timbal balik terhadap negara-negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia, dianggap dapat memberi dampak besar pada ekonomi nasional. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 9 April 2025, yang menyatakan bahwa produk asal Indonesia akan dikenakan bea masuk sebesar 32 persen, yang lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang 24 persen dan Filipina yang 17 persen.

Dia menganggap bahwa Indonesia dan negara-negara lain yang terkena tarif resiprokal dapat merasakan dampak besar. Terlebih, AS merupakan salah satu tujuan utama ekspor Indonesia. Pada tahun 2024, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sekitar 16,8 miliar dolar AS dengan total ekspor sebesar 26,3 miliar dolar AS.

Menurutnya, kebijakan Trump ini berpotensi merugikan kedua belah pihak. Pasalnya, konsumen di AS akan menghadapi harga yang lebih tinggi, yang dapat menurunkan permintaan, termasuk untuk produk asal Indonesia.

Di tingkat regional, Endrizal beranggapan bahwa Indonesia akan terdampak dengan tingkat moderat. Untuk produk garmen dan sepatu, Indonesia memiliki sedikit keunggulan kompetitif dibandingkan Vietnam yang dikenakan tarif lebih tinggi.

Namun, dalam komoditas seperti karet dan produk turunannya, Indonesia mungkin akan kalah bersaing dengan Malaysia yang dikenakan tarif lebih rendah. Ini berarti setiap negara akan mengalami kerugian dengan derajat yang berbeda.

Meskipun demikian, dia melihat ada peluang strategis dalam pergeseran kebijakan ekonomi AS dari multilateral ke bilateral. Ini bisa terjadi jika Indonesia segera melakukan negosiasi langsung dengan Presiden Trump.

Selanjutnya, Endrizal menyampaikan bahwa sektor yang padat karya seperti tekstil, sepatu, dan UMKM adalah yang paling rentan. Penurunan ekspor dapat menyebabkan pemutusan hubungan kerja dan melemahkan daya beli masyarakat.

“Kita tidak hanya perlu menyelamatkan perusahaan, tetapi juga orang-orangnya. Pemerintah harus fokus memberikan bantuan tunai langsung bagi pekerja yang terdampak,” katanya.

You may also like...